PerspektifTV

Header Ads

Nyi Ahmad Dahlan, Tokoh Emansipasi Wanita Bikin Kaget Wartawan China



BREBESTERKINI.COM, KHAZANAH - Mungkin sebagian dari Anda ada yang belum mengetahui bahwa ada sosok perempuan aktivis muslimah yang menjadi lokomotif penggerak emansipasi wanita.

Di adalah Siti Walidah atau biasa dikenal Nyi Ahmad Dahlan. Wanita kelahiran Kauman, Yogyakarta ini merupakan salah tokoh penting berdirinya Muhammadiah, selain Ahmad Dahlan itu sendiri. Nyi Ahmad Dahlan adalah pendiri Aisyiah.

Siti Walidah menerukan perjuangan sang suami pasca Ahmad Dahlan meninggal. Perempuan yang lahir pada 3 Januari 1872 ini menggerakan kalangan perempuan muslimah ketika itu dari sebuah gagasan Sopo Tresno, cikal bakal Aisyiyah. Organisasi otonom bagi wanita Muhammadiyah yang didirikan pada 19 Mei 1917

“Nyai Dahlan menjadi rujukan para tokoh dan kader Muhammadiyah yang ingin menyelami, mendalami, dan mengamalkan warisan pemikiran serta karya Kiai Dahlan,” tulis Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir seperti dilansir Republika.

Nyi Ahmad Dahlan juga mendirikan pondok untuk anak-anak perempuan. Terutama yang belajar di mualimat untuk calon guru agama. Ia pun terjun sendiri memberikan pelajaran ilmu agama, ilmu umum dan baca tulis. Asrama untuk para perempuan yang belajar pun menyatu dengan rumah kediaman Siti Walidah.

Tak mudah ketika itu bagi Nyi Dahlan mengajak kalangan perempuan untuk maju dalam dunia emanisipasi karena persepsi dari masyarat Kauman itu sendiri kala itu. Sebab masyarakat masih sulit menerima gagasan bahwa anak perempuan harus belajar baca tulis dengan meninggalkan rumah sendiri.

Ada peristiwa menarik  saat Kongres Muhammadiyah ke-15 tahun 1926 di Surabaya, Jawa Timur, dimana kongres tersebut dipimpin langsung oleh Nyi Ahmad Dahlan dan membuat peserta tercengang karena baru kali pertama melihat seorang perempuan memimpin kongres besar.

Kehadiran Nyi Ahmad Dahlan dalam kongres tersebut membuat kagum dan perubahan tentang persepsi seorang perempuan, salah satunya adalah pewarta dari negeri Cina yakni surat kabar Sin Tit Po yang kemudian memuat tulisan tentang kongers tersebut. Sin Tit Po juga menuliskan tentang Siti Walidah sebagai sosok perempuan yang berani memimpin kongres saat itu.

Di penghujung hayatnya, Siti Walidah memberikan nasihat kepada para elit pimpinan Muhammadiyah kala itu. Siti Walidah, menitipkan Muhammadiyah dan Aisyiah. Itu disampaikan Siti Walidah ketika para konsulat Muhammadiyah menjenguk ke rumahnya yang sedang dalam keadaan sakit.

Redaksi
Diolah dari berbagai sumber


Powered by Blogger.