Header Ads

Zakat dan Distribusi Kekayaan



Meskipun dapat dikatakan tingkat kemiskinan di Indonesia cenderung menurun, tapi jika dilihat dari nilai nominalnya, jumlah penduduk miskin Indonesia masihlah tergolong besar.

Dari data BPS yang dirilis pada bulan Maret 2016, diketahui jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai sekitar 28 juta orang, ekuivalen dengan 10.86% dari jumlah penduduk Indonesia saat itu.

Pertanyaan kritis selanjutnya adalah, mengapa masih banyak orang miskin di dunia ini? Pertanyaan menarik yang saya kira penting untuk dicari jawaban dan solusinya di hari ini.

Interconnecttivity
Kemiskinan yang dibiarkan akan mengakibatkan tumbuh suburnya permasalahan lain seperti kualitas SDM yang buruk, kriminalitas, sampai ancaman disintegrasi bangsa. Kemiskinan yang dibiarkan tidak hanya menimbulkan permasalahan baru, tapi juga akan "menular" dan akan berisiko untuk "menjangkiti" orang lain. Misal, dari seorang orang tua yang miskin yang dibiarkan miskin, akan lahir seorang anak yang berpotensi (untuk juga menjadi) miskin. Dan contoh lainnya.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Simply karena kita hidup dalam lingkungan yang sama. Interconnected!

Idenya adalah, selama kita masih tinggal di atas bumi yang satu (bahkan dalam universe yang satu), pola hubungan antar-manusia dan juga antar-kejadian di dunia ini adalah saling terhubung (interconnected). Jika ada satu kejadian di sebuah tempat, niscaya cepat atau lambat, besar atau kecil akan mempengaruhi kejadian lain yang berada di belahan bumi yang lain.

Kembali, cepat atau lambat. Besar atau kecil.
Hal ini persis apa yang diungkapkan Edward Lorenz dalam Chaos Theory dimana ia mempercayai bahwa meski hanya dengan perubahan kecil pada satu tempat, di dalam suatu sistem non-linear (yang dalam hal ini adalah kehidupan di Bumi), bisa jadi akan dapat mengakibatkan kejadian besar di tempat dan waktu yang berbeda. Pemahaman ini terkenal dengan sebutan Butterfly Effect Theory.

Kemiskinan dan Ketimpangan
Sebelum menjawab mengapa masih banyak kemiskinan di dunia ini, penting bagi kita untuk mempertegas definisi miskin itu sendiri.

Orang miskin adalah profil seseorang yang dalam jangka waktu tertentu, memiliki pendapatan di bawah garis batas penentu kemiskinan. Yang dalam keadaan itulah, maka orang tersebut tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan, juga beberapa kebutuhan dasar lain seperti kesehatan.

Menurut World Bank, seseorang dapat dikatakan berada dalam garis kemiskinan apabila ia hidup dengan pendapatan di bawah USD $1 per hari (kriteria absolut) dan $2 per hari (kriteria moderat).

Berdasarkan data dari world bank, pada tahun 2013, sebanyak 10,7 persen dari total penduduk bumi (atau setara dengan 767 juta penduduk) hidup dengan kondisi miskin dengan penghasilan di bawah US$1.90 per hari.

Meski di tahun 2018, angka itu berkurang menjadi sekitar 655 juta penduduk atau sekitar 9% dari populasi dunia, akan tetapi, jika masyarakat dunia tidak melakukan langkah-langkah kongkret strategis, maka pada tahun 2030 World Bank memprediksi bahwa jumlah penduduk miskin dunia masihlah di angka yang cukup besar, yakni di angka 480 juta penduduk atau 6% dari populasi dunia.

Jadi dari angka-angka dan definisi di atas, secara singkat (terlepas dari rasionya yang memang relatif kecil), jumlah nominal penduduk miskin di dunia ataupun Indonesia masihlah tergolong besar.

Sebenarnya, banyak teori yang menjelaskan tentang kemiskinan. Namun, pada umumnya, kemiskinan terjadi karena kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar karena sebab-sebab tertentu, misal perang atau bencana alam. Faktor lain yang menyebabkan kemiskinan adalah karena buruknya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan sehingga opportunity material (uang) itu sulit datang padanya.

Bicara solusi, tentu banyak pula teori yang menjelaskan tentang bagaimana cara mengentaskan kemiskinan.

Berdasarkan tulisan dari Dr. Bambang Widianto dalam buku Menuju Ketangguhan Ekonomi: Sumbang saran 100 ekonom Indonesia, ia berpendapat bahwa ketimpangan adalah persoalan lain yang penting untuk segera diselesaikan. Ia mengatakan bahwa satu persen keluarga terkaya di Indonesia menguasai hampir 50 persen total aset yang ada, sementara 10 persen keluarga terkaya di Indonesia hampir menguasai 70 persen aset yang ada. Sungguh keadaan yang sangat timpang.

Dalam analisisnya ia menawarkan setidaknya ada tiga solusi yang dapat dilakukan pemerintah.

Solusi pertama yang ia tawarkan adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang labor intensive. Solusi selanjutnya adalah mendorong pertumbuhan yang inklusif dengan meningkatkan dan meratakan akses pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan dan infrastuktur dasar (air minum, sanitasi dan juga listrik). Solusi terakhir adalah dengan memberikan bantuan sosial kepada mereka yang membutuhkan secara tepat sasaran. Ia percaya bahwa dengan memberikan bantuan secara tepat sasaran dan juga dengan mekanisme pendistribusian yang baik maka cita kita untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang inklusif akan lebih mudah tercapai.

Dalam tulisan kali ini saya mau fokus tentang kemiskinan dan kaitannya dengan distribution of wealth.

Zakat dan Distribution of Wealth
Tentu ketika kita bicara tentang program bantuan sosial sebagai instrumen distribution of wealth, kita pasti tidak bisa lepas dari kata zakat.

Sebagai seorang muslim, saya termasuk orang yang percaya bahwa instrumen zakat adalah salah satu instrumen fiskal yang efektif untuk memperkecil disparitas (kesenjangan) ekonomi yang ada di suatu tempat.

Beberapa dalil syari menegaskan pentingnya kedudukan zakat dalam kehidupan umat Islam, diantaranya adalah:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan". (HR Bukhari, no. 8).

Adapun dalil dari Al Qur'an, diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka". (At Taubah :103).

Ditegaskan lagi dalam firman-Nya:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ
"Dan tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat". (Al Baqarah:110).

Kemudian dalil dari sunnah Rasulullah, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ بَعَثَ ِمُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
"Sesungguhnya ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, (beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab.

Karena itu, jika engkau menjumpai mereka, serulah mereka kepada syahadat, tidak ada yang berhak disembah dengan haq, kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka mentaati engkau dalam hal itu, maka ajarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari- semalam.

Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka ajarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shadaqah atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dibagi-bagikan kepada para faqir miskin dari mereka.

Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka berhati-hatilah terhadap harta-harta kesayangan mereka dan bertaqwalah dari doa-doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang darinya dengan Allah". (Hadits riwayat Al Jamaah).

Tidak hanya itu, seorang ulama besar Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, "Zakat adalah suatu kepastian dalam syari'at Islam, sehingga tidak perlu lagi kita bersusah payah mendatangkan dalil-dalil untuk membuktikannya.

Para ulama hanya berselisih pendapat dalam hal perinciannya. Adapun hukum asalnya telah disepakati bahwa zakat itu wajib, sehingga barang siapa yang mengingkarinya, ia menjadi kafir."

Saya rasa sudah cukup jelas kita ketahui bersama betapa pentingnya kedudukan zakat dalam kehidupan seorang muslim.

Berbeda dengan infaq dan shadaqah yang peruntukannya relatif bebas, kita ketahui bahwa hanya terdapat delapan golongan orang berhak menerima zakat (asnaf).
Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Fakir (orang yang tidak memiliki harta)
2. Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi)
3. Riqab (hamba sahaya atau budak)
4. Gharim (orang yang memiliki banyak hutang)
5. Mualaf (orang yang baru masuk Islam)
6. Fisabilillah (pejuang di jalan Allah)
7. Ibnu Sabil (musyafir dan para pelajar perantauan)
8. Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat)

Dari ke-8 golongan tersebut, kita ketahui bahwa sebagian besar dari mereka adalah golongan orang-orang dengan profile (jika menggunakan terminologi keuangan) tidak memiliki kondisi likuiditas yang baik. Hidup terus jalan, biaya hidup tidak berkurang, akan tetapi tidak ada pemasukan. Jika dikaitkan dengan kondisi makro, keadaan seperti ini jelas memicu kemiskinan dan menimbulkan ketimpangan.

Kaitannya dengan zakat, saya coba berikan ilustrasi yang bisa jadi cukup mencengangkan mata.
Coba kita bayangkan apabila Jeff Bezos adalah seorang muslim dan ia membayar zakat.

Berdasarkan data ABC Finance, seorang Jeff Bezos, yang kita ketahui sebagai pendiri Amazon, memiliki pendapatan yang memang sangat besar, yakni sekitar USD52,8 miliar pada tahun fiskal 2017/2018 atau sekitar 739.2 triliun (kurs Rp14.000/dollar).

Anggap saja bahwa 2,5%-nya dipotong untuk zakat, maka dengan sekejap mata, akan tersedia uang zakat sebesar Rp18.48 triliun. Jumlah sebanyak itu kurang lebih jika dikonversikan menjadi sepiring nasi bungkus seharga Rp10.000 maka akan menghasilkan sekitar 1.840.000.000 (1,84 miliar) nasi bungkus yang dapat didistribusikan ke daerah-daerah yang dilanda musibah kelaparan.

Itu baru seorang Jeff Bezos. Coba bayangkan apabila setiap muslim menunaikan kewajiban berzakatnya setiap waktu. Tentu kita akan saksikan dampak positif yang luar biasa.

Bicara Indonesia, potensi zakat di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim ini, dapat mencapai nilai Rp217 triliun per tahun. Hal ini diungkapkan dalam riset yang berjudul Economic Estimation and Determinations of Zakat Potential in Indonesia oleh Institut Pertanian Bogor (IPB),

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Islamic Development Bank (IDB) tahun 2011. Angka yang jelas sangat menggiurkan untuk mensejahterakan bangsa dan menghilangkan kemiskinan di tanah air.

Kembali mengutip pernyataan Dr. Bambang Widianto sebelumnya, jika saja dana zakat disalurkan secara tepat sasaran dan juga dengan mekanisme pendistribusian yang baik, maka mencapai tingkat pertumbuhan yang inklusif bukanlah sebuah utopia belaka.

Peran Kita
Tentu kita percaya bahwa dunia ini juga tidak kekurangan orang kaya. Jika zakat dapat dijadikan sarana sebagai alat distiribusi kesejahteraan, maka saya yakin kemiskinan dan disparitas akan berkurang di bumi kita ini.

Belum lagi jika kita kombinasikan zakat yang hanya 2,5% itu dengan instrumen "fiskal Islam" lain seperti infak, shadaqah, dan juga wakaf produktif, saya yakin kita bisa lebih dari sekedar "memberi "ikan", atau "membekali pancing", tapi lebih dari itu: Menghibahkan kapal!

Saya yakin, dengan "kapal" yang baik, siapapun dapat berlayar mencari ikan sebanyak mungkin, di tempat manapun yang ia sukai.

Go beyond!

Penulis :
Ma Isa Lombu
Powered by Blogger.