PerspektifTV

Header Ads

Rizal, Dedi Kempot dan Selamat Jalan Sayang


Di awal millenium tahun 2000 an. Kala itu menanti pengumuman umptn/smpb. Aku tinggal bersama Paman di Semarang untuk beberapa masa jeda waktu menunggu hasil ujian. Pamanku merantau ke Semarang dari Sumatera. Dan beroleh istri dari Semarang.

Paman membuka warung padang di terminal terboyo, terminal bus antar kota antar provinsi. Padang Baru nama warungnya. Perangkat musik meja kasir warung pamanku cukup serius. Di sana berselang seling lagu diputar. Dua saja. Minang dan Jawa. Jika takana kampuang (ingat kampung) maka berputar lah lagu lagu minang 'baibo ibo hati'.

Zalmon dan Tiar Ramon penyanyi andalan. Khas lelaki minang di rantau, melo, dan musik melo mendayu paibo hati semacam paket wajib yang harus dimiliki lelaki perantau minang.

Kemudian campur sari lagu yang booming kala itu. Stasiun Balapan by Didi Kempot.

Aku yang baru beberapa lama di Semarang dan baru belajar belajar sedikit kosa kata bahasa Jawa larut pula dalam lagu ini. Satu dua saja kata yang aku mengerti, tapi dari iramanya, lantunan nadanya menusuk hati, kira kira tentang sepasang kekasih yang menjadikan stasiun balapan Solo momen pahit cinta mereka yang terpisah. Semacam janji cinta yg dikhianati, di stasiun balapan solo, melepas kepergian kekasih hati, setelah pergi janji sehari dua, sebulan menjadi tiga, berbilang tahun menjadi empat, yang dinanti tak kunjung kembali. Bikin ambyar hati.

Aku mencari tahu. Rizal sepupuku yg senang bersamaku di warung memberi makna satu demi satu arti kata dalam lagu stasion balapan. Rizal sepupu memberi makna kata demi kata. Semakin menusuklah itu lagu Didi Kempot ke dalam Jiwa. Alunan musiknya begitu magis. Tak mengerti kita bahasa Jawa pun bisa merasakannya. Merasakan tanpa harus memahami.

Dan Dedi menjadi bukti bahwa betatapun kita berbeda beda suku, bangsa, agama ras dan perbedaan politik, kita bisa bersatu padu dalam lirih hati.

Rizal adalah satu dari sedikit keluargaku pendukung Pak Jokowi kala pilpres. Banyaknya anggota keluarga mendukung Pak Prabowo. Rizal kerap minoritas dalam diskusi group group keluarga. Siapa nyana, ternyata, baik Pak Jokowi maupun Pak Prabowo, jua sama seperti Rizal dan kita semua. Sama sama ambyar atine kalau sudah terbius alunan magis maestro kita. Pak Jokowi, Pak Prabowo, Rizal, saya dan kita bersatu dalam karya karya Didi Kempot.

2019. Hampir 20 tahun sejak mula perkenalan pertamaku dengan Didi Kempot. Seiring berjalannnya waktu, siapa nyana. Maestro tetap maestro. Legenda tetap legenda. Didi Kempot membuktikan diri dia adalah legenda hidup. Aku mulai menanjak naik usia menuju siang pukul satu. Didi Kempot menanjak usia pukul 5.

Namun siapa nyana, anak anak usia subuh dan dhuha justru tumbuh sebagai generasi pencinta Didi Kempot. Betapa tidak, yg kerap ambyar sakit hati tentunya kaum muda usia. Pelajar pelajar. Mahasiswa mahasiswa. Terkenang kala pertama aku mengenal Didi Kempot lewat jasa baik Rizal sepupuku di terminal Terboyo Semarang.

Saat itu usia masih muda. Baru tamat SMA. Ada cinta yang tertinggal di belakang dalam kenangan masa remaja muda. Ada harapan yang membumbung tinggi tentang masa depan di masa masa penantian menunggu hasil ujian.

Didi Kempot naik kembali ke puncak keambyarannya. Naik meningkat tajam kepopulerannya dalam gelombang kedua ketenaran, the second wave of popularity, menyintas batas popularitas yang pernah ia gapai sebelumnya. Bukan lagi Solo Balapan.

Tapi ada Pamer Bojo, Ambyar, dan Cidro. Mantan penyanyi jalanan. Pengamen akronim "pengasah mental" kata Didi suatu hari itu masuk kembali ke layar hati kita dari layar kayar kaca dan lcd gawai kita . Duduk di talkshow2 tenar Rosi dan Kick Andy. Bernyanyi di stasiun-stasiun tv nasional, dari stasiun kelas A,B,hingga CDE. Kali ini lintas kelas. Lintas generasi. Lintas galaksi. Lintas ideologi.

Bagi penyanyi penyanyi lainnya, sebuah kehormatan bisa berduo bersama dengan, yang entah dari mana ceritanya, kini sudah menjadi God Father of The Brokenheart. Bapake wong patah hati sak dunia.

Dari Yuni Shara, dan Isyana Saraswati, Jokowi Widodo hingga Prabowo Subianto, berseliweran kita lihat di media sosial kita. Terentang dari penggemar yang tampak, sampai penggemar diam diam sang maestro patah hati. Sekali lagi. Dedi membuktikan, kita berbeda dalam banyak hal. Kita mampu bersatu dalam kepatah hatian.

Beberapa minggu yang lalu. Nun jauh di perantauan melintasi pacific di Benua Amerika ini. Group keluarga tersentak. Sepupuku Rizal, yg memperkenalkanku dengan lagu lagu Didi Kempot meninggal dunia. Rizal usia 34 tahun.

Mati muda. Karena penyakit ginjal yang sudah beberapa tahun ia idap. Kami baru tersadar, Rizal yang membuat group keluarga kami satu sepupu.

Inisiatifnya pada mengumpulkan anggota keluarga satu generasi menandakan Rizal memilili inisiatif cinta di atas rata rata. Cinta keluarga.Rizal yang memperkenalkanku pada maestro patah hati kita ini. Terakhir aku ke Semarang, Rizal yang menjemput ke bandara.

Dan di mobil, Didi Kempot tetap setia. Didi Kempot menyatukan kita semua, para muka rambo hati rinto. Rizal adalah cucu pertama dari garis ibuku yang pergi dahulu ke rumah abadi.

Tadi malam, group group sekolah, kolega, keluarga ramai. Medsos membahana. Tiba tiba sebuah berita. Didi Kempot meninggal karena henti jantung. Padahal baru beberapa minggu yang lalu kita menonton, konser amal Didi Kempot untuk menggalang dana untuk keperluan sosial karena corona covid 19. Berita menyentak kita semua.

Tiba tiba kita semua ambyar. Tanpa sadar Didi menjadi bagian utuh diri kita sudah sangat lama. Dalam perjalanan panjang naik bus di pantai utara jawa, tembang di lorongw asrama mahasiswa, kos kosan masa muda, atau tembang tembang bersama kolega kerja.

Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Andi Noya, Didi Kempot mengatakan, seniman itu tugasnya berkarya dan berkarya terus. Dia sudah mencipta 700 an lagu sepanjang kariernya sebagai musikus ambyar. 600 nya lagu patah hati. Berkarya. Berkarya terus sampai mati kata Didi Kempot pada Andi Noya.

Kaum sufi meyakini, orang jika ingin pulang ke rumah abadi. Akan pergi selama lamanya 40 hari sebelum pergi itu sudah meninggalkan tanda tanda. Ternyata, konser amal, lagu ojo mudik yang Didi Ciptakan, adalah tanda tanda yang ia sampaikan pada kita.

Bahwa dia akan pulang ke rumah sejati. Rumah abadi. Bertemu penciptanya. Sang Maha Kasih yang tak akan pernah lagi membuat dia Ambyar. Alam akhirat yang kekal. Dan bebas patah hati.

Kepergiannya lebih dulu dan karya akhir ojo mudik seolah menjadikan dirinya tebusan. Agar para penggemarnya yg jutaan itu jangan mudik dl. Jangan pulang kampung dulu. Biar saja Didi yang pulang duluan ke haribaan ilahi.

Dedi menyusul Rizal. Penggemarnya yang sepupu saya itu. Aku terkenang almarhum Rizal adiku sepupuku. Di sebuah meja di warung pada terminal terboyo sore itu, Rizal mengajarkanku satu demi satu terjemahan Stasiun Balapan.

"Da da sayaang"
"Daaa Selamat Jalan!"

Selamat Jalan Rizal adikku
Selamat Jalan Mas Didi Kempot.

Oleh Miftah Sabri 
(Chicago 5 Mei 2020)
Generasi Ambyar Periode 1

No comments

Silahkan memberikan komentar yang sopan

Powered by Blogger.