Header Ads

Catatan Karnoto [Bagian-7] Cerita Kuliah Bareng Orang Tionghoa

Pak Siumon (kaos putih) saat nongkrong bareng pada jam istirahat kuliah di Lawoson depan Kampus Univ.Mercu Bauan, Jakarta. 

Kampus bagi saya sih sebenarnya tempat untuk memelihara tradisi ilmiah, makanya saya setengah setuju kalau ada yang mengatakan tidak perlu kuliah kalau memang Anda sudah bisa memelihara tradisi ilmiah ditempat lain selain kampus.

Tapi saya beruntung saat kuliah di Universitas Mercu Buana Jakarta, karena selain mendapatkan tempat nongkrong untuk memelihara tradisi ilmiah juga mendapatkan keberuntungan karena punya teman seorang Big Bos dari warga keturunan Tionghoa.

Ceritanya begini, karena kuliah saya waktu itu kelas karyawan maka saya hanya masuk hari Sabtu dan Minggu dari pagi jam 08.00 hingga 20.00 WIB. Waktu itu saya angkatan ke-18 di Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Marketing Communication Advertising.

Karena di Jakarta jadi satu kelas itu banyak teman dari warga keturunan China dan Tionghoa termasuk dikelas saya. Kami satu kelas hanya 18 orang karena memang dibatasi dan sistemnya menurutku bagus.

Beberapa diantaranya satu semester untuk satu mata kuliah ada 16 kali pertemuan dan kita diberikan kompensasi 4 pertemuan tidak hadir, tapi risiko tanggung sendiri. Jika melebihi jatah 4 pertemuan yang diberikan pihak kampus maka sudah dipastikan kita tidak akan lulus untuk mata kuliah tersebut, biarpun hasil ujiannya nilai A plus plus, tidak akan diluluskan.

Sebab, si dosen tidak punya kewenangan untuk merubah absensi mengingat sistem absen dilakukan secara komputerisasi. Jadi ketika dosen baru datang mengajar maka hal pertama adalah absen dan bukan dikertas melainkan dengan absensi di komputer yang terkoneksi dengan pihak akademik sehingga begitu dientri maka data tersebut langsung masuk ke pihak akademik dan tidak bisa dirubah.

Makanya kalau terlambat lebih dari 15 menit jadwal kuliah dan dosen sudah melakukan absen maka kita dianggap tidak masuk mata kuliah tersebut, di dosen tidak bisa membantu dalam hal ini karena data sudah masuk ke bagian akademik.

Tapi yang membuat hoki bagi saya adalah karena ada satu diantara teman sekelas keturunan china adalah big bos. Namanya Shimon, dia punya perusahaan garmen, kafe dan restoran. Dan dia juga salah satu penyandang dana sebuah yayasan pendidikan di Singkawang, Kalimantan Barat.

Dia menjadi mahasiswa tertua angkatan saya ketika itu.Tapi biarpun tua semangat belajarnya luar biasa. Dan yang membuat saya senang itu setiap kali mau ujian apakah itu UTS atau UAS dia selalu berdiri dikelas dan mengatakan kepada kami begini.

"Kita harus kompak, siapa diantara teman - teman yang belum bayar ujian nanti saya yang bayarin, biar kita ikut ujian semua," kata dia. Dan itu benar - benar dibayarin sama dia termasuk saya ketika itu. Asyik kan? Coba kalau model Pak Shimon banyak, enak dah!

Kalau urusan bayaran ujian saja dia mau bayarain apalagi cuma sekadar jajan atau makan makan saat jam istirahat, itu mah jangan ditanya lagi, kita tidak boleh bayar, ha ha ha. Uniknya lagi, dia tidak punya dompet, tidak bawa ATM bawanya uang cas dan duitnya diikat pakai karet.

Tapi meskipun diikat pakai karet, lembarannya merah semua bro ! Kalau tidak melihat sendiri mungkin tidak percaya. Waktu itu saya dan teman sekelas termasuk dia nongkrong di Lawson, mirip Alfamart cuma konsepnya ada kafenya. Kebetulan ada di depan kampus waktu itu.

Dan saat selesai ngopi- ngopi dia langsung ke kasri dan saat itulah dia mengeluarkan uang buntelan dari tasnya, diikat pakai karet gelang. Ha ha ha ha

Ketika liburan panjang, dia bukan ke Bali atau Batam, tapi ke Hongkong dan bisa sampai satu bulan ha ha ha. Mungkin ketemu leluhuranya kali. Selidik punya selidik saya tahu alasan mengapa dia kuliah padahal buat apa dia kuliah.

Lah bayangkan saja, perusahaan dia punya, duit sudah mengalir, dia juga penyandang dana yayasan pendidikan. Ternyata dia hanya mengisi waktu luang, sederhananya mah daripada nganggur maka dia kuliah. Jadi dia pilih mengisi waktu kosong kuliah, sedangkan istrinya kursus nyanyi.

Saat liburan kami sekelas juga pernah diajak dia liburan ke Pulau Seribu dan dia semua yang bayar, mulai dari sewa perahu, sewa vila dan biaya - biaya lainnya, kita tinggal berangkat. Ke kafe di Jakarta pun begitu, dia yang bayarin karena kita tidak boleh bayar.

Soal keseruan saat kuliah di Jakarta nanti akan saya ceritakan pada bagian lain, seperti cerita Indah Purnamasari, teman sekelas yang bekerja sebagai pramugari tapi saat kuliah karena libur terbang dia sewa saut ruang di kantin kampus dan dia jualan empek - empek, dia sendiri yang melayani. Jangan ditanya soal fisik, kalau pramugari rata - rata  pasti cantik. Tunggu cerita saya nanti dibagian berikutnya.

No comments

Silahkan memberikan komentar yang sopan

Powered by Blogger.