#bawahfooter { margin:0; padding:0; text-align:center;} #bawahfooter1 { margin:10px 0 10px 0; padding:0;}
PerspektifTV

Header Ads

Menakar Pendidikan Berkarakter dalam Sistem Daring



Kala itu waktu kuliah di Jogja beberapa kali mendapat pembelajaran daring dan tugas kuliah daring yang sudah disiapkan oleh dosen.

Waktu itu bagi sebagian mahasiswa mungkin sudah biasa dengan pembelajaran daring itu juga tergantung dosennya melek teknologi atau tidak.

Apalagi bagi mereka yang kuliah di UT (Universitas Terbuka) yang syarat dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Suatu ketika ujian tengah semester (UTS) pun dijadikan tes daring (ujian online), bagi saya kala itu sangat memudahkan tidak usah bangun pagi-pagi, tidak usah mandi, dan tidak usah berangkat ke kampus.

Bangun tidur terus sarapan langsung menghadap PC (personal computer), walaupun waktu belum seperti sekarang semua orang mempunyai gawai (gagdet).

Mungkin waktu itu saya cukup beruntung walaupun tidak punya komputer jinjing (laptop) dan telepon pintar (smartphone) saya tinggal di kontrakan gratis dengan ada PC yang terhubung internet. Bagi sebagian yang lain kala itu bangun tidur paling tidak harus pergi ke warung internet (warnet) waktu itu di Jogja masih menjamur warnet.

Tiba-tiba seseorang teman menghubungi saya, kalau dia tidak bisa (tidak sempet) mengerjakan UTS online yang telah dijadwalkan.

Akhirnya dia meminta tolong ke saya untuk  mengerjakan UTS dia.  Karena dia teman dekat saya, akhirnya saya mengiyakan untuk mengerjakan UTS online itu.

Dengan soal ujiannya sama, akhirnya tanpa berpikir untuk  mengedit lagi jawaban, yang saya lakukan adalah tinggal copy paste jawaban saya ke akun e-learning dia, karena waktu sudah pusing untuk menulis lagi.

Sudah dipastikan dosen curiga dan pasti harus ada yang diklarifikasi. Kisah ini hanya sepenggal cerita pengalaman pada akhirnya dan mungkin ada beberapa hal-hal sejenis yang bisa jadi adalah borok bagi dunia pendidikan kita.

Di tengah pandemi covid-19 hal seperti ini ternyata tidak hanya dialami oleh mahasiswa yang seyogyanya memang sudah mempunyai nalar dan mandiri untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Lalu bagaimana pembelajaran jarak jauh ini ketika dialami oleh anak-anak yang mengenyam pendidikan dasar dan menengah apalagi pendidikan anak usia dini ?

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak sedikit memunculkan ketimpangan dan problem yang cukup komplek dialami oleh kita. Beberapa kasus orang tua mengeluh karena mengerjakan tugas anaknya yang diberikan oleh guru.

Alih-alih bimbingan yang dilakukan oleh orang tua, yang terjadi orang tua yang mengerjakan soal tes anaknya. Yang saya alami di atas ternyata dialami oleh para orang tua.

Jika orang tua biasa membimbing belajar anak, maka hal itu menjadi hal biasa. Itu semua mungkin satu dua yang terjadi, lalu bagaimana  jika orang tua tidak  bisa membimbing sama  sekali dan si anak tidak mempunyai perlengkapan untuk  pembelajaran jarak jauh?

Sempat terdengar kasus juga orang tua dengan jalan tidak seharusnya melakukan pencurian gagdet hanya untuk agar anaknya bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Belum lagi masalah yang dialami oleh sekolah dan guru. Guru yang mempunyai tugas mulia, tapi tidak semulia kehidupannya.

Ada guru yang rela door to door memberikan pembelajaran ke muridnya. Ada juga guru yang seenaknya memberikan beban tugas, karena tidak bisa memberikan pembelajaran tatap muka, akhirnya siswa dibebani tugas terus  menerus. Pada akhirnya guru tetap tidak seberuntung “ruang guru”.

Guru yang seharusnya sudah mengikuti  pendidikan formalitasnya, dengan adanya pandemi ini akhirnya dituntut untuk lebih mengembangkan kemampuannya dalam pembelajaran daring.

Tidak sedikit pula guru yang tidak siap dalam melakukan pembelajaran jarak jauh. Yang menjadi tugas berat guru di masa pandemi ini yaitu bagaimana mewujudkan pendidikan karakter dalam pembelajaran daring.   

Harus sadar bahwa pendidikan karakter ini harus menyertai semua lapisan masyarakat bangsa Indonesia.

Akhirnya kita merasakan bahwa pendidikan karakter sudah seharusnya dimulai dalam pendidikan keluarga yang notabenenya adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anak. Yang perlu kita ambil hikmah dalam pembelajaran yang dilakukan di tengah pandemi ini yakni bagaimana pendidikan karakter terwujud dengan dilakukannya pembelajaran jarak jauh.

Idealnya dengan sudah berjalannya pendidikan karakter pada sistem pendidikan kita, harusnya di tengah pandemi seperti ini generasi kita bukan generasi yang krisis akan karakter.

Bukan berarti saya menghakimi generasi kita bukan generasi yang berkarakter. Justru ketika kita mau belajar pada pandemi covid-19 pendidikan karakter ini dibutuhkan bukan hanya untuk anak-anak yang mengenyam pendidikan formal sekolah.

Beberapa ahli menafsirkan pendidikan yaitu suatu proses alih pengetahuan (transfer of knowledge)  dan proses alih nilai-nilai (transfer of value) dari pendidik ke peserta didik.

Bagi saya bukan hanya ada dua proses alih (transfer of knowledge & value) dalam pendidikan, ada satu suatu proses yang harus dilakukan yaitu transfer kesadaran (transfer of consciousness).

Pendidikan pada hakikatnya dilakukan atas pihak yang telah mempunyai kesadaran (consciousness) kepada anak yang akan digugah kesadarannya, sehingga pendidikan menjadi alat kesadaran untuk membangun manusia bukan memperalat manusia itu sendiri.

Jika hari ini pendidikan kita dilanda banyak problematika, bisa jadi pendidikan kita belum menumbuhkan kesadaran. 

Paling tidak jika hari ini bangsa kita belum siap menghadapi bagaimana pendidikan di masa pandemi covid-19.

Sudah seharunya kita menjadi orang sadar bahwa pendidikan hari ini bukan hanya tanggungjawab sepihak, bukan hanya anak-anak saja yang perlu pendidikan karakter.

Untuk menumbuhkan generasi yang berkarakter dibutuhkan pula orang tua, guru, dan peran sekolah yang berkarakter bukan mematikan karakter anak. Semoga pendidikan kita menuju arah kemerdekaan.

Penulis | Dedi Nur Sidik
Pemerhati Pendidikan Asal Bumiayu

No comments

Silahkan memberikan komentar yang sopan

Powered by Blogger.