PerspektifTV

Header Ads

Pandemi Menyadarkan Kita Arti Pendidikan Sebenarnya



Beberapa waktu yang lalu beredar sebuah karya pantun yang berisi tentang gundah gulana seorang murid. Dalam pantun itu mengungkapkan bahwa dengan sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ)  orangtua tidak bisa mengajar, rindu untuk bertemu dengan guru daan teman-teman sekolah.

Entah itu sebuah karya benar dari seorang pelajar atau karya seseorang yang hanya iseng belaka. Bagi saya pantun tersebut memberikan gambaran bahwa hari ini pendidikan formal sekolah mengecilkan aspek pendidikan itu sendiri.

Sekolah sebelum masa pandemi telah membangun paradigma bahwa pendidikan hanya dilakukan di sekolah, padahal di satu sisi pendidikan formal harus didukung pendidikan keluarga dan pendidikan lingkungan yang masuk dalam pendidikan informal.

Harusnya hal ini sesuai dengan harapan yang tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa “jalur pendidikan pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling memperkaya dan melengkapi”.

Di tengah pandemi Covid-19 ini akhirnya yang merasakan beban dalam menghadapi pendidikan jarak jauh (PJJ) bukan hanya dirasakan oleh anak saja, justru bagi sebagian besar orang tua merasa sangat terbebani.

Survei TBM Lentera Pustaka yang bertajuk “Anak Belajar Jarak Jauh di Mata Ibu-Ibu” pada Selasa, 28 Juli 2020 mengkonfirmasi bahwa 71,1% orang tua merasa kerepotan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dialami anaknya.

Yang paling menohok bagi saya melihat pendidikan formal sekolah hari ini seakan-akan  membangun lingkungan sendiri yang seolah-olah sekolah adalah tempat rehabilitas bagi anak-anak. Bukan hanya itu saja bagi sebagian orang tua dalam menyekolahkan anaknya, hanya sebatas agar beban tanggungjawab mendidik anak terkurangi.

Sisi pendidikan hanya sebatas menjadi pragmatis semata, nilai idealisme pendidikan semakin tergerus. Seandainya saja para orang tua menjadikan mendidik  anak itu sebuah kehidupan, niscaya tidak dibutuhkan pendidikan formal sekolah.

Semua orang tua itu pengasuh, pendidik, dan pembimbing bagi kehidupan anak. Kompleksitas hidup akhirnya melahirkan sistem pendidikan formal hari ini. Harusnya sekolah include dengan lingkungan masyarakat itu sendiri, bukan melahirkan tembok tebal pemisah masing-masing aspek pendidikan.

Belum lagi imbas pandemi terhadap aspek ekonomi kehidupan keluarga. Tidak sedikit muncul kasus kesenjangan akibat masa pandemi di mana yang miskin semakin tidak bisa mengakses pendidikan.
Problematika pendidikan hari ini akhirnya sangat dirasa bagi semua kalangan.

Pemerintah sebagai stake holder pengambil kebijakan kewalahan menyiapkan kurikulum pada masa pandemi, sekolah dengan tantangan menyiapkan guru yang siap dengan pembelajaran jarak jauh, anak yang akhirnya terus tergerus menjadi objek dari pendidikan itu sendiri seakan value dari pendidikan tidak mengena.

Semuanya dihadapkan dalam posisi yang tidak siap. Sudah seharusnya paradigma kita tentang pendidikan hari ini harus berubah.  Akhirnya kita tahu bukan anak-anak  saja  yang harus dididik  dengan pendidikan yang selayaknya, orang tua dalam pendidikan keluarga sebagai tataran masyarakat paling bawah  (grassroot) pun merasakan bahwa mereka masih membutuhkan bagaimana  cara mendidik (parenting).

Guru yang seharusnya SDM yang disiapkan sebagai tenaga pendidik pun harus dididik kembali untuk siap menjadi pendidik di masa pandemi. Di masa pandemi yang kita belum tahu kapan berakhirnya memberikan pembelajaran bahwa pendidikan harus hadir di masyarakat secara utuh, bukan hanya sekolah.

Akhirnya kita melihat bahwa sistem pendidikan formal sekolah sekarang ini tidak siap mewadahi kebutuhan masyarakat di masa pandemi, pendidikan formal sekolah hanya seolah menjadi kebutuhan sektor ekonomi bukan membangun manusia.

Penulis: Dedi Nur Sidik
Aktivis dan Pemerhati Pendidikan

No comments

Silahkan memberikan komentar yang sopan

Powered by Blogger.