Header Ads

Politik Kancil Pilek



Syahdan di sebuah rimba belantara hiduplah Harimau Si Raja Rimba yang memerintah secara sewenang - wenang , bengis lagi  kejam.

Pada suatu hari Sang Raja Rimba , mendengar isu- isu ditengah - tengah  komunitas hewan sebagai warga rimba belantara. Semakin hari , semakin ramai diperbincangkan publik  hingga pada khalayak paling bawah di pasar.

Perbincangan dan pergunjingan menurut Si Raja Rimba, bukan hanya dapat mendelegitimasi kekuasaan, tetapi juga berdampak pada stabilitas nasional yang sehat dan dinamis menjadi terganggu.

Berbagai informasi digali oleh istana Sang Raja Rimba , tibalah pada suatu kesimpulan bahwa ruangan istana Sang Raja Rimba tidak steril sehingga bau menyengat termasuk sekujur tubuh sang Raja. Sehingga dalam setiap kunjungan kerja ke daerah mendapat penolakan warga hewan yang lain.

Untuk memperoleh bukti- bukti atas isu yang berkembang , sang Raja Rimba belantara memanggil tiga pimpinan warga binatang yang berpengaruh untuk mendapat kebenaran informasi yang menjadi pergunjingan.

Pertama, pimpinan binatang yang diundang pertama  ke istana Raja Rimba adalah seekor anjing Herder yang besar . "Silahkan pimpinan Herder untuk masuk ruang Istana," kata Raja Rimba.

Raja Rimba pung mengatakan,wahai Herder katakan  sejujur - jujurnya apakah saudara mencium bau yang menyengat di ruang ini , sambil badan sang Raja Rimba mendekat

Herder lalu menjawab mohon ampun yang mulia , memang benar yang mulia di ruangan ini begitu menyengat baunya dan memualkan.

"Sungguh engkau kurang ajar wahai Herder," kata Raja sambil menerkam Herder dan merobek- robeh tubuhnya sampai lumat dan mati. ,

Kedua, pimpinan binatang yang kedua diundang ke Istana adalah Kijang. "Silahkan masuk pimpinan Kijang," kata Raja. Kijang kaget dan ketakutan melihat Herder yang terkapar sudah tidak bernyawa .

Raja Rimba mengatakan, silahkan masuk wahai pimpinan Kijang . Katakan dengan jujur wahai pimpinan Kijang, apakah ruangan ini saudara mencium bau yang menyengat sambil badan Raja Rimba mendekat

Kijang, sambil gemetar dan ketakutan pimpinan Kijang menjawab "Wahai Raja yang mulia , ruangan ini termasuk badan yang mulia harum lagi menyegarkan," kata Kijang.

Sembari  meraung- meraung Sang Raja Rimba mengatakan dengan sekeras - kerasnya memarahi Kijang. "Dasar kamu kurang ajar  Kijang, kamu munafik, beraninya  membohongi Raja," kata Sang Raja dan diterkamlah pimpinan Kijang sambil merobek - robek tubuhnya.

Ketiga, giliran pimpinan binatang ketiga dan  terakhir yang diundang ke Istana adalah Kancil. "Silahkan pimpinan Kancil masuk," kata Raja Rimba mempersilahkan Kancil. Setelah berada di depan pintu masuk tercium bau ruangan dan badan Raja Rimba yang menyengat dan memualkan , tiba- tiba Kancil bersin ( wahing ) sebanyak tiga kali.

Raja Rimba mengatakan, wahai pimpinan Kancil jawab dengan jujur, apakah ruangan ini tercium bau yang menyengat sehingga saudara bersin sebanyak tiga kali?.

Kancil dengan gemetar dan ketakutan menjawab. "Mohon ampun yang mulia Raja Rimba, hamba bersin sebanyak tiga kali karena hamba sedang pilek , hidung sedang mampet , jadi tidak tau apakah ruangan ini dan badan yang mulia itu bau atau tidak," jawab pimpinan Kancil.

Raja Rimba pun mengatakan kepada pimpinan Kancil. "Oh begitu saudara pimpinan Kancil .  Silahkan saudara Kancil untuk meninggalkan ruangan ini," kata Raja . Begitu gembiranya Sang pimpinan Kancil dan buru- buru ke luar ruangan.

Penulis :  Drs. H. M Sugeng Wibowo, SH, MH, M.Si .
Dosen Universitas Prasetiya Mulya, BSD Serpong , Tangerang Selatan.

No comments

Silahkan memberikan komentar yang sopan

Powered by Blogger.