Header Ads

Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan



Penyembelihan hewan kurban Idul Adha dimulai dari tanggal 10 Dzulhijjah hingga selesai hari tasyrik yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Idul Adha identik dengan Nabi yang Allah SWT beri gelar Abul Anbiya’ (Bapak para Nabi), ulul ‘azmi (orang yang sabar dan teguh pendirian), dan khalilurrahman (kekasih Allah yang Maha Pengasih) yaitu Nabi Ibrahim.

Nama Nabi Ibrahim As. selain mendapat banyak julukan dari Allah SWT, nama beliau juga diabadikan dalam Al-Qur’an sebanyak 61 kali, karena prestasi yang pernah diukir beliau dalam sejarah peradaban semesta.

Julukan Abul Anbiya’ lantaran telah melahirkan para Nabi dan orang-orang saleh, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al-kitab (wahyu)….” (terjemahan QS. Al Hadid 57 : 26).

Tidak banyak orang baik dan sukses yang melahirkan orang baik dan sukses pula. Lain halnya dengan Nabi Ibrahim As. yang dari garis keturunannya melahirkan dua orang Nabi, yaitu Nabi Ismail As. dan Nabi Ishaq As.

Garis keturunan Nabi Ismail darinya terlahir Nabi kita Muhammad SAW dan dari keturunan Nabi Ishaq terlahir pula Nabi Ya’kub, dari keturunan Nabi Ya’kublah terlahir semua Nabi yang berasal dari Bani Israil. Sungguh mulia keturunan Nabi Ibrahim As.

Kemulian dan keutamaan keturunan Nabi Ibrahim As. tentu ada faktornya, lalu apakah itu? Sedikitnya ada tiga faktor:
Pertama, do’a yang senantiasa dipanjatkan.
Al Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim senantiasa berdo’a:
Rabbi hablii minashshoolihiin
artinya:  “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffaat 37 : 100).

Nabi Ibrahim memanjatkan do’a tersebut jauh sebelum menikah atau sebelum punya anak. Beliau tidak meminta sembarang anak tetapi anak yang saleh, anak yang mampu melanjutkan misi perjuangannya, berakhlak mulia serta beriman dan bertakwa kepada Allah SWT .

Beliaupun tidak pernah berputus asa dalam berdo’a. Sejarah membuktikan hal luar biasa, pada usia senja do’a Nabi Ibrahim dikabulkan Allah SWT yaitu melalui Siti Hajar, istri keduanya, Nabi Ibrahim dikaruniai seorang putra yang kita kenal sebagai Nabi Ismail As.

Kedua, kepedulian Nabi Ibrahim As. pada pendidikan anaknya.

Al Qur’an menceritakan, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berhala.” (terjemahan QS. Ibrahim 14 : 35).
Ayat lainpun menceritakan,

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab:

“Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (terjemahan QS. Al Baqarah 2 : 132-133).

Terbukti dari ayat-ayat tersebut, betapa besarnya perhatian Nabi Ibrahim As. terhadap pendidikan anak-anaknya. Terpuruknya bangsa ini bukan karena sumber daya manusianya kurang cerdas, tetapi karena bobroknya moral dan akhlak.

Pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan akhlaq dan agama. Pendidikan umum merupakan pendukung dari pendidikan agama, disesuaikan dengan syakilah/potensi anak. Seperti disebutkan dalam firman Allah SWT, “Katakanlah (Muhammad),

“Setiap orang berbuat sesuai dengan syakilah/pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (terjemahan QS. Al Isra 17 : 84).

Ketiga, kepedulian Nabi Ibrahim As. pada kesejahteraan anak dan keluarga.
Beliau adalah sosok ayah yang baik dan suami yang bertanggung jawab.

Sebagaimana do’a Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (terjemahan QS. Ibrahim 14 : 37).

Seseorang yang bekerja keras mencari rizki halal untuk keluarganya, dinilai oleh Allah SWT sebagai sedekah tertinggi. Rasulullah SAW bersabda, “Satu dinar dari harta yang engkau nafkahkan untuk keluargamu merupakan pahala yang paling besar di sisi Allah.” (HR. Muslim).

Semoga Allah memberikan kita kemampuan meneladani Nabi Ibrahim, agar hidup kita, kondisi anak kita dan keadaan keluarga kita menjadi lebih baik serta senantiasa dalam Ridho Allah SWT.
Mari kita yakini, pengorbanan kita tidak sia-sia apa pun hasilnya.

Janji Allah SWT akan mempertemukan kita kembali dengan anak-anak kita di akhirat apabila tetap beriman pada Allah dan menjalankan syariat Islam secara baik. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan,

Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (terjemahan QS. Ath-Thur 52 : 21).

Syeikh ‘Aid Abdullah Al-Qarny dalam bukunya La Tahzan mengatakan, “ Apabila Anda melihat padang pasir yang luas tak bertepi, yakinlah bahwa di balik itu ada taman hijau nan indah.

Dan apabila saat ini Anda bermandikan air mata, yakinlah sebentar lagi akan datang senyum kesuksesan, asalkan kita tetap yakin bahwa Allah SWT akan menolong kita dan terus berusaha tanpa henti”.

Penulis | Vicky
Guru Asal Bumiayu

No comments

Silahkan memberikan komentar yang sopan

Powered by Blogger.